Pedagang Asongan vs Corona
Setiap pagi pedagang asongan selalu mangkal di samping masjid. Ibu-ibu rumah tangga ........
"Mengapa ribut soal berita covid.. covid .. covid.., memangnya berita itu benar, bisa dipertanggungjawabkan? Sudahlah, tidak penting, perasaan negatif akan mengikis kebaikan-kebaikan diri sendiri," demikian jawab pak Ali (nama samaran) ketika dikonfirmasikan kepada dia tentang merebaknya virus corona di Sumenep (baca: kota Sumenep), salah satunya disebabkan para pedagang sayur asongan, beberapa hari yang lalu. "Jika kami penyebabnya, bagaimana pendapat mas Bayu (nama samaran)" begitu lanjutnya.
Para pembeli, yang sebagian besar adalah ibu-ibu ada yang menimpali dan berkomentar: "Sik--sik, Mas, Aku ini.. kami-kami ini berlangganan ke pak Ali ini sudal lama, lho! Bahkan sebelum mbak Corana datang. Dan alhamdulillah, hingga hari ini, warga kampung sini, tidak ada yang tertular covid. Jadi intinya jangan disangka pedagang asongan yang sangat membantu kami ini menjadi penyebab merebaknya corona, mas! Ngerti mas?" demikian komentar bu Ayu, sambil memilih sayur kenikir dan dua lonjor petai, mungkin akan masak pecel Blitar.
Demikian juga komentar-komentar senada disampaikan oleh para pedagang asongan yang lain, yang banyak beroperasi di wilayah perumahan utamanya, serta ibu-ibu rumah tangga yang menyatakan sudah lama berlangganan kepada tukang sayur asongan.
Kesimpulannya, musibah yang sedang melanda Indonesia bahkan dunia saat sekarang, dan penyebarannya tidak bisa ditudingkan kepada beberapa orang atau sekelompok orang sja, akan tetapi, musibah ini merupakan ujian bagi warga negara untuk kembali menjalani hidup dengan hanya menyandarkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sang pencipta corona.
Kesimpulannya, musibah yang sedang melanda Indonesia bahkan dunia saat sekarang, dan penyebarannya tidak bisa ditudingkan kepada beberapa orang atau sekelompok orang sja, akan tetapi, musibah ini merupakan ujian bagi warga negara untuk kembali menjalani hidup dengan hanya menyandarkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sang pencipta corona.

Tidak ada komentar
Kami sangat berterima kasih, Anda telah berkenan meninggalkan komentar di sini